:)

Selamat pagi anak-anakku, ayah tahu hari ini hari yang spesial buat kalian. Daud naik kelompok B, dan Ibrahim mulai masuk Kelas 1 SD. Dengan pergantian ini kalian akan banyak menemui hal-hal baru, bertemu dengan teman-teman baru, atau bahkan guru-guru baru.

Anakku, Jangan Kau Tuntut Ilmu

Ayah dan bunda tidak menyekolahakanmu untuk menuntut ilmu. Karena kita telah membayar biaya sekolahmu, kemudian dengan seenaknya kamu merasa berhak menuntut-nuntut ilmu dari guru-gurumu? Tidak Nak. Uang yang tidak seberapa itu tidak mungkin bisa menggantikan waktu, pengalaman, dan kebijakan mereka. Dan kita tidak sedang di ruang pengadilan nak, yang menempatkanmu di meja penuntut yang menuntut hakmu karena memberi upah pada seorang pengajar yang berada di seberang meja. Hakmu, dengan uang itu adalah sekadar agar kamu bisa duduk di bangku sekolah, yang artinya sekadar membuka peluang agar kau bisa mendapatkan pengajaran.
Sedang ilmu itu adalah lain soal.

“Terus bagaimana aku bisa mendapatkan ilmu itu ayah ?”

Hormatilah gurumu

Hormatilah guru-gurumu, bagaimanapun mereka adalah orang-orang yang sudah lebih dahulu lahir daripada kamu. Mereka mempunyai lebih banyak pengalaman hidup daripadamu. Karena itu, tundukkan kepalamu dan tegakkan hatimu.
Tundukkan kepalamu maka kau akan mengerti bagaimana rasanya menjadi tidak tahu, dan berharap menjadi tahu. Tegakkan hatimu, protes dan berdiskusilah dengan semua guru-gurumu. Saat kau rasa mereka mengajarkan sesuatu yang salah, sudah sepantasnya rasa hormatmu yang mendorongmu untuk mengangkat kepala, mengacungkan tangan, dan berdiskusi. Sebagaimana kau selalu berdiskusi saat dengan ayah bunda selama ini. Ajukan argumentasi yang solid, dan berdasar kuat. Tentu kalau mereka adalah seorang yang benar berilmu mereka akan bersedia untuk berdiskusi, bahkan dengan kalian yang jauh lebih muda daripada mereka :)

Kaislah ilmu

Ayah tadi bilang kan, tundukkan kepalamu. Karena guru yang berilmu adalah orang-orang yang juga senang menundukkan kepala, bukan kepada orang-orang tua murid yang berduit dan berkuasa, bukan pula kepada para investor sekolah. Sebagaimana pohon yang sarat buah, sebagaimana pohon padi yang siap dipanen. Mereka yang penuh dengan bulir-bulir pengetahuan dan kebijakan, adalah orang-orang yang selalu merunduk. Juga mereka adalah orang-orang yang nyaman ketika diajak berdiskusi, sebagaimana kita nyaman dibawah pohon rindang.
Oleh karena itu merunduklah, dan pungutlah buah-buah dan bulir-bulir hikmah yang berguguran dari mereka, rasakan nikmatnya menelan kebijakan-kebijakan dan petuah-petuah mereka.

Kalau perlu curilah ilmu

Bukan, ayah bukan mengajak kalian untuk mencontek, atau mencuri berkas ujian. Berkas ujian itu hanyalah alat untuk mengekstrak nilai dari kalian, dan nilai ujian itu tidak seberapa penting, nak.
Seringkali orang-orang yang benar-benar bijak adalah mereka yang selalu merasa bodoh, mereka yang merasa hanya menemukan pertanyaan yang lain setelah mereka mampu menjawab satu pertanyaan. Orang-orang yang semakin mereka belajar, semakin mereka merasa banyak hal lain yang mereka tidak tahu. Sehingga mereka sangat enggan untuk memberi ilmu, karena mereka merasa tak mampu.
Maka curilah ilmu itu dari mereka, perhatikan setiap tindak laku dan tutur katanya, renungkanlah setiap pertanyaan-pertanyaan mereka. Selama mereka asyik dengan conundrum dan paradox yang mengisi otak mereka, curilah ilmu-ilmu mereka. Kalaupun itu membuatmu bingung, setidaknya kau tahu bahwa kau ini bodoh dan banyak tidak tahu. Sadar bahwa kamu tidak tahu adalah hal penting, agar kau selalu mencari dan mencuri.. ilmu tentu saja :)

Sayangilah teman-temanmu

Ibrahim, ayah sadar kamu berbadan besar, lebih tegap dan tinggi daripada kebanyakan teman-temanmu. Tapi itu bukan senjata untuk menakut-nakuti mereka nak, juga bukan alat untuk mendapatkan pujian dari guru-gurumu. Lindungilah teman-temanmu, sopanlah kepada orang-orang yang lebih tua disekitarmu.
Daud, kamu lebih mungil dibanding rata-rata temanmu. Namun bukan berarti kamu boleh bersikap manja dan rapuh.
Anak-anakku, sayangilah temanmu, ingatkanlah mereka dengan tegas saat mereka berbuat salah. Dan kalau kamu yakin kamu sedang memegang kebenaran, pertahankan kebenaran itu.
Bermainlah dan bersenang-senanglah, pada akhirnya kamu akan tahu, bahwa yang kau ingat dari masa sekolahmu bukanlah pelajaran, nilai, ataupun lembaran-lembaran ulangan yang kau selesaikan dengan baik. Namun adalah saat-saat bermain, bertualang, dan bereksperimen dengan jalan yang bernama hidup ini bersama orang-orang yang kau sayangi, teman-temanmu.

Ingatkan kata ayah ? di dunia ini semua pada dasarnya tidak ada artinya, manusialah yang membuatnya berarti. Emas tidak ada gunanya, tapi appresiasi orang terhadap emas lah yang membuatnya berharga. fillet mignon, ribeye, mentok ayam, puyuh goreng semua sama, berprotein tinggi dan baik untuk menyambung hidup, namun dengan penilaian manusia mereka berharga berbeda. Jadi jangan lupa pada akhirnya semua berpangkal dan bermuara pada manusia. Dan tentu kamu ingat kata ayah, yang lebih berarti dari manusia adalah Kebenaran.
Dan untuk menggapai Kebenaran itulah kita bangkit tiap pagi, termasuk kamu pergi bersekolah pagi ini.

Selamat jalan anakku, selamat bertualang :)
Pintu rumah kita akan selalu terbuka setiap kau lelah bermain dan belajar.

7 responses


Do you want to comment?

Comments RSS and TrackBack Identifier URI ?

wkwkwkwkwkw…
daud karo ibrahim mudeng ra yo mas??

July 12, 2010 2:22 pm

:D mugo2 mudeng. wong kadang anak2ku tak dongengke aljabar linier elementer kok :P wkk

July 12, 2010 10:56 pm

Hiks.. terharu om.. Very valuable piece.
Berharap bisa menyampaikan ini ke Rheina dengan cara yang dia mengerti.

July 13, 2010 2:44 am

Emaknya bagian mewek aja T_T

July 13, 2010 5:05 am

Benar2 membuka mata gue deh. Bagus banget. Bikin mikir.

July 14, 2010 9:59 am

woh. opo ra mumet anakmu? nembe sekolah wis kon mikir njelimet? :P

July 15, 2010 1:12 am

ora mas, wong yo mung ngguya ngguyu trus ‘nggih’ kok… ( sik2 opo cah2 kuwi ngguya ngguyu mergo ramudeng ya .. :P )

July 16, 2010 6:30 am

Comment now!
















Trackbacks